STUDIO6JATI

KECAMATAN JATI:

Big Areas, Lot of Natural Resources, but Lack of Investment, Human Resource, and Uneven Infrastructure!!

Rabu, 18 Juli 2012


Masalah

Fisik dan Sumber Daya Alam


Masalah yang dapat mengakibatkan mundurnya perkembangan pada aspek fisik dan sumber daya alam di Kecamatan Jati adalah masalah ketersediaan sumber air yang memadai. Ketika masuk musim kering, kegiatan pada sektor pertanian pun berhenti, karena di Kecamatan Jati hanya memiliki satu sumber air yaitu di Desa Cerme. Selain itu, rendahnya curah hujan di kecamatan ini juga menjadi permasalahan karena dapat memperparah keadaan ketika memasuki musim kering. 
Jenis tanah pada Kecamatan Jati merupakan tanah grumosol dan mediterania. Jenis tanah tersebut merupakan jenis tanah yang keras dan kering. Dengan jenis tanah seperti itu, sektor pertanian yang dapat dikembangkan dengan baik pada kecamatan ini adalah jenis pertanian lahan kering sehingga variansi pertanian dan komoditi pertanian tidak begitu tinggi. 
Bencana yang rawan terjadi di Kecamatan Jati adalah angin puting beliung. Banyaknya pohon jati dengan ukuran yang tinggi dan besar dapat memperparah keadaan apabila puting beliung terjadi. Bencana ini dapat mengakibatkan tumbangnya pohon jati  yang dapat menimpa permukiman warga maupun menghambat aksesibilitas karena pohon tumbang ke jalan.

Penggunaan Lahan

Penggunaan lahan di Kecamatan Jati selain digunakan sebagai lahan hutan secara mayoritas, lahan digunakan untuk lahan pertanian kering. Masalah yang sering ditemui oleh para pekerja tani adalah masalah kekeringan dan minimnya sumber air yang ada di Kecamatan Jati. Ketika memasuki musim kering, lahan pertanian akan menjadi sangat kering dan tidak dapat digunakan untuk ditanami tanaman lahan kering, sehingga dapat mengurangi pendapatan petani.
Lahan pemukiman yang ada di kecamatan ini tergolong sedikit, jika dilihat dari peta citra lokasi permukiman di kecamatan ini terbilang menyebar dengan jarak yang berjauhan. Pemukiman di kecamatan ini linear dengan jaringan jalan yang ada. Hal tersebut dikarenakan penggunaan lahan mayoritas sebagai lahan hutan jati. Contohnya, pada Kelurahan Doplang.

Ekonomi
Lahan permukiman yang linear pada sepanjang jalan. Disekelilingnya berupa lahan sawah dan hutan
Potensi ekonomi Kecamatan Jati cukup besar karena adanya sektor pertanian, perdagangan, industri, dll. Akan tetapi potensi tersebut masih belum dirasakan dan dimanfaatkan oleh masyarakat secara merata. Hal tersebut terbukti dengan banyaknya penduduk muda hingga penduduk tua yang bekerja pada sektor pertanian. Sektor industri di kecamatan  ini cukup banyak, seperti industri olahan tempe, dan industri olahan jamur. Akan tetapi masyarakat kurang mengeksplor industri olahan kayu jati yang merupakan komoditi terbesar pada kecamatan ini. Sangat disayangkan penduduk belum bisa mengembangkan industri olahan kayu jati, apabila industri ini dapat dimanfaatkan masyarakat, perekonomian masyarakat akan meningkat.

Infrastruktur
Jaringan Jalan
Kondisi jaringan jalan pada kecamatan ini tergolong buruk. Hal tersebut dikarenakan adanya jalur Perhutani yang melintasi kecamatan ini. jalur perhutani merupakan jalur yang digunakan oleh truk-truk pengangkut kayu jati dari hutan-hutan jati menuju tempat penimbunan kayu yang ada di Kelurahan Doplang. Jalur perhutani yang melintasi jaringan jalan utama dan jalan lingkungan memberikan dampak yang buruk bagi aksesibilitas masyarakat. jalur perhutani sengaja dibiarkan rusak karena alasan menjaga keamanan kayu-kayu jati yang sudah ditimbun. Pihak perhutani telah meberikan insentif atau dana retribusi kebada Kecamatan Jati atas kegiatan yang ada di kecamatan ini. akan tetapi dana tersebut tidak terserap untuk pengadaan perbaikan jalan.

Jaringan Air

Jaringan air di Kecamatan Jati cukup terbatas, dikarenakan terbatasnya sumber air bersih. Sumber air bersih yang ada di kecamatan ini hanya terdapat di satu desa, yaitu Desa Cerme Kelurahan Tobo. Tedapat 300 titik sumber air yang dapat menyangga kebutuhan air di Kecamatan Jati. Akan tetapi titik-titik sumber sir tersebut masih belum memenuhi kebutuhan air sehari-hari dan kebutuhan lahan pertanian di kecamatan ini sehingga kekeringan kerap melanda.
Pada kecamatan ini tidak terdapat sungai irigasi untuk pengairan pertanian, sehingga pengairan lahan pertanian di kecamatan ini hanya mengandalkan sumber air yang ada. Pada Kelurahan Bangkleyan terdapat sebuah waduk, akan tetapi air pada waduk tersebut terlihat dangkal dan tidak mengisi waduk hingga setengahnya.


Jaringan Drainase


Jaringan drainase yang terdapat di Kecamatan Jati kondisinya tidak terurus. Hal tersebut dikarenakan saluran drainase tidak berfungsi secara maksimal. Tidak terdapat air yang mengaliri saluran tersebut. Hanya sampah dan rumput yang terus meninggi yang mengisi saluran drainase. Penduduk tidak mengurusi drainase yang terdapat di jalan-jalan utama. Saluran drainase yang terdapat disepanjang jalan lingkunganpun tidak begitu besar, hanya berukuran lebar 20 – 30 cm. saluran tersebut pun hanya ditumbuhi rerumputan.


Kelembagaan
Kelembagaan masyarakat yang ada di Kecamatan Jati hanya berjalan ketika terdapat sebuah isu pembangunan sehingga organisasi masyarakat kurang peka terhadap isu-isu lainnya. Kegiatan dalam organisasi tersebut tidak memiliki sebuah kegiatan rutin yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat luas, kecuali kegiatan kerja bakti. Dalam kelembagaan yang ada di Kecamatan Jati, masih kurang adanya lembaga masyarakat yang memberikan pelatihan dan pembinaan wirasusaha yang kreatif dan inovatif. Hal ini sangat disayangkan, karena sumber daya manusia di Kecamatan Jati masih sangat minim dalam pemanfaatan sumber daya alam maupun eksplorasi softskill dan keterampilan masyarakat.






1 komentar:

  1. mas,di desa Jegong ada tempat bernama BLEKUTHUK, sumber air asin,dan potensi wisata,coba di unggah fotonya di blog ini atau di facebook anda,

    BalasHapus